Sadar Melanggar. Tentang Surat Izin Mengemudi(SIM) C


Mengendarai sepeda motor bagi sebagian besar orang seakan-akan sudah menjadi kebutuhan wajib. Hemat saya, diantara banyaknya orang yang mengendarai sepeda motor di jalan, banyak pula yang tidak mempunyai Surat Izin Mengemudi(SIM). Termasuk saya adalah salah satu pengendara motor yang sering pulang pergi Tulungagung-Malang, tapi tidak punya SIM, akan tetapi saya memiliki alasan kenapa walaupun saya sudah berusia 23 tahun, saya belum memiliki SIM, padahal secara syarat usia saya sudah memenuhi. Bukan saya hendak mengeluhkan ribetnya prosedur mengurus SIM, karena faktanya mengurus SIM, baik untuk permohonan SIM baru maupun perpanjang sangatlah gampang. Kita hanya perlu mengisi formulir serta menyerahkan surat keterangan sehat dari dokter, 2 lembar fotocopy ktp, dan fotocopy SIM jika kita ingin melakukan proses perpanjangan SIM. Apalagi saat ini sudah ada program SIM online, yang berarti kita bisa membuat maupun perpanjang SIM dimanapun tanpa harus sesuai dengan alamat di KTP. Biaya pembuatan SIM pun bagi saya masih terjangkau yakni untuk SIM C Rp. 100.000,- ditambah tes kesehatan mungkin jadi sekitar Rp. 150.000,-. Satu-satunya hal tersulit yang dialami pemohon SIM menurut saya adalah proses antri, karena biasanya pemohon SIM tiap hari selalu banyak dan setiap Satuan Penyelenggara Administrasi SIM(SATPAS) membatasi kuota pemohon SIM setiap harinya.

Alasan saya tidak memiliki SIM adalah karena saya gagal dalam ujian praktik, ya hanya karena itu saja. Buat kalian yang belum tahu apa saja materi ujian praktik SIM C, berikut ini adalah materi yang diujikan dalam uji praktik SIM C, yakni:

  1. berjalan lurus
  2. zig-zag(slalom)
  3. lintasan berbentuk Y
  4. lintasan berbentuk angka 8(figure 8)
  5. berputar balik(U turn)
namun, untuk tempat ujian saya, waktu itu di SATPAS Tulungagung hanya mengujikan dua materi ujian praktik, yaitu ujian praktik zig-zag(slalom), dan ujian praktik berjalan di lintasan berbentuk angka 8(figure 8). Meskipun sudah dikurangi ujiannya, akan tetapi faktanya perhari di SATPAS Tulungagung jumlah pemohon SIM baru yang berhasil lulus hanya sekitar paling banyak 50-an orang dari total 150 orang pendaftar, angka tersebut saya dapatkan ketika mendengarkan salah seorang peserta ujian yang berbincang dengan penguji, jadi jelas memang angka ini tidak valid seperti angka-angka yang ada di jurnal ilmiah milik seorang profesor dari LIPI. Pihak SATPAS Tulungagung sebenarnya juga menyediakan fasilitas untuk pemohon SIM yang gagal ujian yang diberi nama "Remidial Teaching". Sekilas nama tersebut nampak keren karena menggunakan Bahasa Inggris. Padahal gak semua orang Tulungagung paham Bahasa Inggris. Mungkin ini yang menjadi alasan mayoritas pesertanya adalah anak-anak sekolah, yang sudah terbiasa dengan istilah remidi, dan sekedar informasi tempat Remidial Teaching sama dengan tempat ujian praktik. Mungkin kalian semua berpikir lantas apa yang membuat saya tetap tidak punya SIM? apakah saya pemalas yang enggan mengulang ujian? ya, itu juga tidak sepenuhnya salah.

Saya akui saya pemalas, tapi saya pernah mengikuti Remidial Teaching lebih dari lima kali pertemuan, dan alhasil ketika pertemuan ketiga saya berhasil melalui semua rintangan. Setelah pertemuan kelima saya memutuskan untuk ujian ulang, dan hasilnya bisa ditebak, yaitu saya tetap gagal. Saya merasa faktor yang menyebabkan kegagalan saya adalah faktor dalam diri sendiri, yaitu grogi. Bahkan saking groginya pas rintangan zig-zag saya lupa menekan tuas rem, dan ketika rintangan membentuk angka 8, saya malah membentuk angka 8 romawi. Tidak selesai sampai disini, setelah gagal saya tetap ikut lagi Remidial Teaching satu kali pertemuan, dan di Remidial Teaching, saya bisa melampaui rintangan yang ada lagi. Saya terpaksa tidak mengambil ujian ulang lagi, karena saya harus ke Malang untuk kembali ke rutinitas sebagai mahasiswa, alhasil saya mengurungkan niat untuk memiliki SIM yang sangat saya idam-idamkan.

Berbekal nilai ujian teori yang kalau tidak salah ingat 97 dari skala 100, pengetahuan tentang 12 gerakan pengatur lalu lintas, sedikit membaca tentang UU 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, serta berhasil dalam Remidial Teaching. Hal tersebut membuat saya merasa memiliki kualifikasi mengendarai sepeda motor, dan saya memberanikan diri untuk melanggar peraturan, yakni naik sepeda motor tanpa SIM dengan jarak lebih dari 100km. Lantas kenapa saya tidak segera mengajukan permohonan SIM di SATPAS Kota Malang adalah karena saya sudah terlalu pesimis, soalnya di daerah sendiri yang sudah latihan berulang kali saja saya masih grogi, apalagi di kota orang, bisa pingsan ditempat barangkali.

Sistem SIM saat ini, saya akui memang sudah bagus, sekarang sudah sangat sulit untuk menemukan calo, berbeda dengan pengalaman teman saya yang membuat SIM sekitar tahun 2012, yang katanya baru memarkir motornya sudah dihampiri oleh calo yang menawarkan jasanya, padahal parkirnya masih di rumah sendiri. Sebenarnya saya juga sempat menghubungi seseorang yang bisa disebut calo, namun jawaban yang diberikan cukup melegakan batin, yaitu "sekarang sudah gak bisa nitip". Jawaban tersebut terdengar melegakan, karena setidaknya kabupaten tempat saya tinggal sudah selangkah lebih maju dalam menghadapi "surga" bagi aktifitas suap menyuap. Akan tetapi, bagi sebagian orang yang mengalami kesulitan mengahadapi grogi seperti saya atau memiliki kesulitan lain yang tidak bisa diatasi hanya dengan ikut program semacam Remidial Teaching, sebenarnya "nembak" SIM adalah satu-satunya solusi yang paling jitu. Sekarang solusi seperti itu sudah sangat sulit bahkan tidak bisa. Oleh karena itu, kalau saya boleh mengusulkan ide, sepertinya lebih baik jika ada perubahan pola pengajuan SIM baru. Maksud saya adalah yang semula menggunakan pola ujian menjadi pola kepelatihan atau diklat. Konsepnya seperti "pemutihan" yang mana semua yang daftar pasti mendapatkan SIM, tetapi bedanya dalam konsep kepelatihan ini pemohon SIM baru tetap melakukan praktik selayaknya ujian SIM, akan tetapi praktik yang saya maksud adalah semacam coaching clinic, jadi pemohon SIM mendapat pelatihan dan tuntunan sehingga bisa melalui rintangan praktik, dan setelah bisa tidak perlu lagi harus diuji. Untuk pengganti ujian teori, para pemohon SIM diwajibkan untuk mengikuti kelas tentang rambu-rambu, dan etika berkendara yang benar, sehingga para pemohon SIM bisa mendapatkan pengetahuan yang mendalam atau komprehensif tentang bagaimana berkendara dengan baik dan benar.

Konsep yang saya ajukan ini menurut saya adalah solusi sama-sama untung untuk pemohon SIM dan pihak kepolisian, yakni pemohon bisa mendapat SIM yang diinginkan, dan pihak polisi untung karena bisa meminimalisir pelanggaran berlalu lintas, alasannya adalah pengendara motor akan memiliki kompetensi yang memadahi dalam mengendarai motor. Selain itu, dapat mengurangi istilah naik motor "curi-curi" tanpa memiliki SIM, yang mana kompetensi pengendaranya belum bisa dijamin alias ada risiko bisa membahayakan pengguna jalan lain.

Konsep yang saya ajukan ini membutuhkan sumber daya manusia yang banyak dalam prosesnya, tetapi menurut saya masih bisa diatasi dengan cara memecah konsentrasi masa pemohon SIM baru, yakni untuk urusan kepelatihan diserahkan ke jajaran polsek, sehingga pemohon SIM hanya datang ke SATPAS setelah selesai masa kepelatihan dan tinggal membayar administrasi SIM dan foto.

:

6 komentar:

  1. tunggu. angka 8 romawi brati kan patah2 ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya kayak gitulah pokoknya. Nabrak semua patok yang ada. Kacau balau pokoknya.

      Hapus
  2. Kalau saya dulu pas tes SIM nggak langsung keseluruhan tes. Jadi hari pertama cuma ambil yang tes tulis, terus nggak dilanjut karena udah kesiangan. Tes praktiknya baru saya ambil hari lain di minggu berikutnya. Datang sama-sama pagi tapi langsung ambil antrian praktik jadi nggak sampai lama banget :D

    Tapi kalau sekarang masih bisa gitu ga ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, kurang tau juga mbak. Soalnya kemarin langsung ambil praktik, harusnya sih bisa-bisa aja mbak.

      Hapus
  3. Aku dulu cuma 10 menit jd mas hehehehe

    BalasHapus