Kerja di Jepang Tak Senyaman Kerja di Indonesia

pengen kerja di jepang

Tak bisa dipungkiri sebagai negara maju, Jepang merupakan negara yang memiliki pesona dalam bidang ekonomi. Banyak orang yang ingin mencari peruntungan di sana. Salah satunya adalah Ifan Budi Kusuma atau biasa disapa Ifan, yaitu seorang pria asal Kabupaten Trenggalek Jawa Timur. Ifan sekarang ini bekerja di salah satu perusahaan bidang pengelasan konstruksi yang berada di Prefektur Hiroshima Jepang. Awalnya Ifan pergi ke Jepang dengan mengikuti program magang yang diselenggarakan oleh lembaga swasta yang beralamat di Krian Sidoarjo.

Pria alumni SMKN 1 Bandung Tulungagung ini memiliki masa kontrak 3 tahun dengan perusahaan, dan ia sudah menjalani 2 tahun 5 bulan bekerja di Jepang dengan posisi sebagai pemagang. Status tetap sebagai pemagang yang didapatkan Ifan bukan tanpa alasan, karena memang sudah menjadi aturan pemerintah Jepang bahwa lulusan SLTA yang ingin bekerja di perusahaan Jepang hanya diperbolehkan untuk menjadi pemagang. Status tersebut bukanlah masalah bagi Ifan, karena kendati demikian, gaji yang diterimanya cukup besar. Jauh lebih besar dibanding UMR kota-kota besar di Indonesia.
kerja di jepang
Urutan dua dari kanan foto Ifan Budi Kusum








Gaji yang besar itulah yang membuat Ifan tetap bertahan untuk bekerja di Jepang, karena menurutnya kerja di Jepang itu tak senyaman kerja di Indonesia. Menurut Ifan yang menjadikan kerja di Indonesia lebih nyaman ialah bukan karena dekat dengan keluarga melainkan iklim lingkungan kerjanya yang bersahabat, maksudnya bisa timbul hubungan pertemanan yang baik antar karyawan. Berbeda dengan di Jepang, pekerja asli Jepang akan selalu menghindari berkomunikasi dengan orang asing atau dalam istilah Jepang-nya disebut gaijin. Maka dari itu “Kerja di Jepang itu monoton”, begitulah kata Ifan saat dihubungi tim nggerutu.com via messenger Sabtu, 20 Februari 2017.

“Hubungan pekerja Jepang dengan pekerja Jepang lainnya sendiri baik, bahkan cenderung saling menghormati, tapi dengan gaijin tidak peduli”, tambah Ifan.

Bagi Ifan, sikap pekerja Jepang yang menutup diri ini tentunya berdampak pada kegiatan kerja. Pekerja Jepang cenderung ‘ngomongin di belakang’ tentang pekerjaan pemagang gaijin.

“Misalnya kerjaku salah menurut mereka, nanti gitu mereka ngobrol rasan-rasan, tidak pernah ngomong langsung”, kata Ifan.

Hanya hubungan dengan atasanlah yang normal seperti bekerja di Indonesia, maksudnya jika pemagang melakukan kesalahan maka akan ditegur, bahkan pernah ada pemagang yang sampai mengalami kekerasan fisik.

“Malah ada yang mngalami kekerasan fisik dikeplaki ndase”, tegas Ifan.

Selain itu, kerja di Jepang tekanannya lebih tinggi dari pada kerja di Indonesia untuk bidang pekerjaan yang sama. Hal tersebut disebabkan karena setiap proyek ada jadwalnya dan tenggat waktu pengerjaannya sangatlah singkat.

“Kadang jadwal yang dikerjakan belum selesai, sudah ditubruk jadwal proyek selanjutnya”, pungkas Ifan.

Ket:
Messenger = aplikasi pesan singkat
rasan-rasan = gosip
dikeplaki ndase = dipukul kepalanya
:

2 komentar: